Rabu, 18 Januari 2017

SEJARAH SINGKAT TENTANG TIDORE

SEJARAH SINGKAT TENTANG TIDORE


Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, tepatnya di sebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, pulau Tidore dikenal dengan nama; “Limau Duko” atau “Kie Duko”, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung “Kie Marijang”. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu : To ado re, artinya, ‘aku telah sampai.

Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Balibunga, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan di mana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.
Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar Sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansyur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Ala ud-din Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Toma Banga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saif ud-din (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.
EKSPANSI TIDORE KE TIMUR NUSANTARA

Selain Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore juga merupakan salah satu Kerajaan besar di jazirah Maluku Utara yang mengembangkan kekuasaannya terutama ke wilayah selatan pulau Halmahera dan kawasan Papua bagian barat. Sejak 600 tahun yang lalu Kerajaan ini telah mempunyai hubungan kekuasaan hingga sampai ke Irian Barat (Pesisir Tanah Papua) sebagai wilayah taklukannya. Waktu itu, yang memegang kendali kekuasaan pemerintahan di Kerajaan Tidore, ialah Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang ke 12.
Menurut (Almarhum) Sultan Zainal Abidin Alting Syah, Sultan Tidore yang ke 36, yang dinobatkan di Tidore pada tanggal 27 Perbruari 1947, yang bertepatan dengan tanggal 26 Rabiulawal 1366.H, bahwa Kerajaan Tidore terdiri dari 2 bagian, yaitu:
1. Nyili Gam
a. Yade Soa-Sio se Sangadji se Gimelaha
b. Nyili Gamtumdi
c. Nyili Gamtufkange
d. Nyili Lofo-Lofo
2. Nyili Papua (Nyili Gulu-Gulu).
a. Kolano Ngaruha (Raja Ampat)
b. Papua Gam Sio
c. Mavor Soa Raha
(This statement allegedly made by Zainal Abidin Syah)
Dalam catatan tersebut dengan sendirinya bukanlah “Irian Barat” yang disebutkan, melainkan “Papua“. Selain dari Papua, juga pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Gebe, pulau Patani, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar, Sorong, Gorong, Maba, Weda, juga termasuk dibawah naungan Kerajaan Tidore.
Disebutkan “Under the Dutch rule, all legal documents were first sent to the “The Kingdom of Tidore for oka before being used in the above mentioned provinces, which were once the property of the Kingdom of Tidore._Tombuku and Banggai were under the rule of the Kingdom of Ternate before Dutch rule”.
Di bawah ini adalah salinan catatan sejarahnya dalam “Bahasa Tidore” ketika Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang pernah mengadakan expedisi ke pulau Halmahera bagian selatan sampai di “Papua” dan pulau-pulau sekitarnya.
“Madero toma jaman yuke ia gena e jaman “Jou Kolano Mansyur” Jou Lamo yangu moju giraa2 maga i tigee Jou Kolano una Mantri una moi2 lantas wocatu idin te ona: Ni Kolano Jou Ngori ri nyinga magaro ngori totiya gam enareni, tiya Mantri moi2 yo holila se yojaga toma aman se dame madoya.

Ngori totagi tosari daerah ngone majoma karena daerah ngone enareni yokene foli, kembolau gira toma saat enarige ona jou Mantri moi-moi yo marimoi idin enarige, lantas Jou Kolano una rigee wotagi wopane oti isa toma Haleyora (Halmahera) wodae toma rimoi maronga Sisimaake wouci kagee lalu wotagi ine toma Akelamo lantas kagee wotomake jarita yowaje coba Jou Kolano mau hoda ngolo madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga karena kagee seba foloi.



Selasa, 17 Januari 2017

Duh, Dua Pulau Di Nias Dikuasai Asing





INICERITALAMA.COM
Ini cerita lama, sekarang sudah jauh berkembang.   
Dua Pulau di Nias, yakni Pulau Asu di Nias Barat dan Pulau Sibaranu di Nias Selatan (Nisel) diduga dikelola warga negara asing (WNA). Penguasaan kedua pulau tersebut telah berlangsung sejak 2008.

Informasi yang diterima harian Seputar Indonesia (SI) dari warga setempat menyebutkan, orang yang yang mengusai Pulau Asu adalah Hendrike dan Alex, keduanya warga negara Brasil beserta Steve warga Amerika Serikat dan Canna warga 
Sedangkan Pulau Sibaranu di Nias Selatan dikuasai warga negara Australia, hanya nama orang yang dimaksud belum diketahui. Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan (BB) Mayor Jenderal (Mayjen) TNI M Noer Muis, yang kemarin sedang berada di Sibolga, mengaku belum mendapat data resmi tentang itu. Menurut dia, WNA tidak boleh menguasai atau memiliki pulau sepenuhnya. Kalaupun ada kerja sama, mesti ada aturan yang mengikat.

BILA ASING MENGUASAI PULAU PULAU KECIL MAKA DIA AKAN MEMBUAT MASALAH BESAR



Dahulu ketika tiba tiba saja muncul reklame besar besaran entah siapa yang membuat reklame yang menawarkan kepada pihak asing untuk menyewapulau pulau kecil di Indonesia, ada 4000-an pulau yang sebagian besar belum ada nama dan tak berpenghuni di Indonesia ditawarkan untuk dikella dan dikuasai oleh asing dalam waktu tertentu, maka beramai ramai kita memaki maki kepada mereka yang kita sendiri tah tahu siapa mereka. Tetapi teriakan itu semakin lama semakin menghilang, apalagi Pemerintah seperti tak peduli. Padehal teriapan makian kita itu adalah tuduhan mereka sebagai penghianat yang hanya memikirkan keuntungan sesaat, karena mereka bermain api yang kelak akan membuat masalah besar atas kedaulatan Bangsa.
Belakangan baru kita tahu bahwa ternyata Pemerintah sendiri yang telah menawarkan kepada pihak asing untuk memanfaatkan dan menguasai pulau pulau kecil yang kosong penghuni untuk mengadakan kegiatan komersial dalam waktu tertentu dengan membayar sejumlah harga kepada Pemerintah Indonesia. Dan tawaran dari Pemerintah Indonesia kini mulai menarik minat asing yang memang mereka membutuhkan tempat yang legal guna menopang berbagai usaha mereka, kitapun menjadi terhenyak.

MEMPERTAHANKAN KEDALAMAN MAKNA PANCASILA

kETIDAKSUKAANMegawati pada saat Menjadi Presiden untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila setelah berhasil mengatasi pemberotakan Berda...