Sabtu, 19 Januari 2013

Jatah Se-Lampung 675 Caleg



JAKARTA – Jumlah kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Lampung yang akan diperebutkan dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 bertambah. Total ada 675 calon anggota legislatif (caleg). Perubahan jatah kursi itu disebabkan data agregat kependudukan tingkat kecamatan (DAK2) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengalami perubahan dari data pada Pemilu 2009.

Untuk DPRD Lampung dari 75 menjadi 85 kursi, sedangkan untuk DPR RI akan ada penambahan dua kursi sehingga dari 18 pada Pemilu 2009 menjadi 20 wakil rakyat.

’’Kemungkinan 85 kursi, bertambah sepuluh kursi dari Pemilu 2009. Kalau dapil (daerah pemilihan) belum kami finalisasi, akan kami tetapkan melalui pleno. DPR RI kemungkinan 20 kursi dan kalau untuk kabupaten/kota ada yang tetap, ada yang tambah,” kata anggota KPU Lampung Sholihin kepada Radar Lampung kemarin.

Komisioner KPU Lampung Handi Mulyaningsih menambahkan, draf pembagian dapil sudah dibuat dari tujuh menjadi delapan dapil

Mulailah dengan memantapkan Kader

FACHRUDDI


Seorang peserta Rakor DPW PPP Lampung, berasal dari salah satu DPC dengan terbatabata meminta kepada DPW untuk merekomendasikan sejlmlah nama dalam rekrutment caleg di wilayahnya, serta meminta kebersamaan dalam menentukan sikap sehingga benar benar memiliki visi yang sama. Kegalauan melanda para kader karena berdasarkan analisa pengamat bahwa pemilihan calon legislatif pada Pemilu tahun 2013 yang akan datang masih didominasi oleh mereka yang memiliki uang banyak, tidal jauh dari Pemilu sebelumnya, money politik nyaris transparan dilakukan oleh politisi partai kaya. Sementara petinggi PPP seperti memberikan warning untuk menghindari dan melarang ikut ikutan mempraktekkan politik uang, sekecil apapun, demikian partai yang tidak memiliki banyak dana ini menjadikan para kadernya galau, melihat tantangan yang demikian besarnya.

Kegalauan itu tidak semestinya terjadi andai saja pengurus telah memiliki program yang

Jumat, 18 Januari 2013

PPP dan Rumus Kali, Bagi, Tambah, Kurang

FACHRUDDIN

Bila menginginkan adanya perubahan posisi PPP menjadi lebih baik, maka tinggalkan cara cara lama, tidak ada rumusnya melakukan perubahan dengan cara yang sama dan oleh orang orang yang sama pula dengan sebelum sebelumnya, perubahan hanya akan terjadi manakala dilakukan dengan cara yang berbeda dan akan lebih pas lagi oleh orang yang berbeda pula. Kalaupun harus dilakukan oleh orang orang yang lama, tetapi hendaklah dengan cara cara yang baru. Ada rumus yang bagus yang dapat dilakukan, yaitu rumus kali, bagi tambah kurang, lalu apa yang harus dilakukan.

1. Tambah.

Kalau PPP ingin berkembang lebih baik maka adakanlah nilai tambah PPP, dan nilai tambah itu harus benar benar dapat dirasakan oleh ummat. Bukan kita yang

PPP Harus berubah dengan SMART.

FACHRUDDIN

Sebagai partai yang termasuk tua, PPP tidak semestinya ada di bawah Demokrat, PKS, PAN dan PKB serta paratai wajah baru lainnya. Sayang itu tidak terjadi karena masa lalu partai ini disibukkan oleh politik unsur, yaitu NU, Parmusi, Perti dan PSII, dan hasilnya adalah seperti apa yang sama sama kita lihat sekarang ini. Kaderisasi dilingkungan PPP relatif tidak jalan. Dari Pemilu ke Pemilu selalu saja mengandalkan pemilih tradisional atau pemilih fanatik yang berharap adanya Partai islam yang besar. tetapi apakah PPP telah berusaha membesarkan dirinya?. PPP sudah lama membutuhkan perubahan, tetapi bukan berarti harus berubah mengarah ke skuler, nasionalis seperti partai Islam lainnya. Tidak, tidak perlu PPP merubah diri menjadi partai nasionalis, sebenarnya PPP memiliki peluang besar, dengan tetap berazaskan Islam.

PPP dapat menjadi besar dan didukung ummat manakala kehadiran PPP dirasakan manfaatnya bagi ummat.

Kamis, 17 Januari 2013

Partai Politik Bersih Pilihan Masyarakat

BANDAR LAMPUNG (Lampost.Co): Partai politik yang bersih dan kadernya tidak terlibat korupsi masih akan menjadi pilihan masyarakat pada Pemilu Legislatif 9 April 2014. Sedangkan figur caleg hanya berlaku untuk pemilih DPRD kabupaten/kota.

Hal itu dikatakan pengamat politik Universitas Lampung (Unila), Safarudin. Menurutnya, faktor dan citra partai politik yang bersih dari korupsi akan mendapat simpati masyarakat sehingga akan dipilih pada Pemilu 2014 ketimbang partai politik yang kadernya banyak terlibat korupsi.

“Saya rasa parpol yang bersih ini masih mendapat tempat di hati masyarakat. Mengingat mereka sudah dikecewakan oleh parpol yang mengaku bersih akan tetapi kadernya banyak tersangkut korupsi,” kata Kepala Laboratorium Politik dan Otda Unila itu.
Menurut dosen FISIP Unila tersebut, faktor parpol masih cukup dominan di Pemilu 2014. Untuk calon legislatif (caleg) DPR, masyarakat masih melihat partai politiknya ketimbang sosok atau figur caleg tersebut.

“Untuk caleg DPR (pusat) masyarakat masih melihat parpolnya sebanyak 70%. Sedangkan 30%-nya baru figur caleg,” ujar dia. Caleg yang maju dari partai politik yang bersih diprediksi akan mendapat suara yang signifikan.
“Sedangkan untuk DPRD provinsi, faktor parpol maupun figur caleg masih 50:50,” ujarnya.

Safarudin menambahkan untuk caleg DPRD kabupaten/kota, faktor partai politik tidak memiliki pengaruh signifikan untuk mendulang suara. Pasalnya, masyarakat pemilih lebih melihat sosok calon ketimbang melihat sosok partai politik pengusung.(CR-2/U-2)

Resiko Rumah Besar PPP

FACHRUDDIN

Sejatinya PPP sebagai Rumah Besar Ummat Islam adalah menampung aspirasi politik ummat Islam, terlebih setelah Parpol Islam lainnya tidak lolos verifikasi, atau partai lainnya yang juga hidup dari komunitas ummat Islam telah menyatakan diri sebagai partai terbuka dan atau menghapuskan azas Islam dari partainya. Maka tiada temapt lain bagi mereka yang masih memiliki spirit untuk berjuang demi ummat bahwa PPP adalah temaptnya kembali, ada juga mereka yang mengaku tidak nyaman dengan perkembangan internal partainya yang dirasakan jauh dari nilai nilai keislaman yang diyakini kebenarannya. Lalu apakah mereka itu kutu loncat atau bukan masih tergantung dengan latar belakang sikap politik mereka yang sejati, dan hanya yang bersangkutan dengan Tuhan yang tahu. etapi secara pribadi saya tidak ingin menyamaratakan dan memvonis mereka seluruhnya sebagai politisi kutu loncat.

DPW PPP Lampung melihat ada masalah yang sangat penting, yaitu masalah akidah. Ummat Islam setidaknya

Pragmatisme Suburkan Kutu Loncat

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Sejumlah politisi di Lampung berpindah partai politik untuk pencalonannya di Pemilu 2014. Wabah politisi kutu loncat ini disebabkan sikap pragmatisme dan buruknya sistem kaderisasi di partai politik.

Pengamat politik Universitas Lampung, Safarudin, Rabu (16-1), menilai politisi yang sering berpindah partai atau kutu loncat tersebut hanya berorientasi kepada kekuasaan. Sikap demikian, menurut dia, adalah pragmatisme berpolitik.

Jika partai yang dinaunginya saat ini sudah tidak menjanjikan jabatan strategis atau nomor urut jadi, mereka lebih memilih hengkang ke partai lain. “Jika alasan para kutu loncat itu, politisi itu cenderung pragmatis,” kata Safarudin.

Kepala Laboratorium Otonomi Daerah FISIP Unila itu menambahkan

MEMPERTAHANKAN KEDALAMAN MAKNA PANCASILA

kETIDAKSUKAANMegawati pada saat Menjadi Presiden untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila setelah berhasil mengatasi pemberotakan Berda...